JAKARTA, KOMPAS.com — Dalam dunia politik, apa pun memang bisa terjadi. Politisi yang ulung selalu memiliki sederet skenario, mengantisipasi jika salah satu skenario terganjal batu sandungan.
Ketua Dewan Pembina Partai Gerakan Indonesia Raya Letjen TNI Purn Prabowo Subianto, misalnya, kendati telah berkomitmen berkoalisi dengan PDI-P, nyatanya mantan Danjen Kopassus tersebut tetap bergerilya melakukan lobi-lobi politik dengan partai lainnya.
Sebut saja pertemuan Gerindra dengan parpol yang tidak lolos parliamentary threshold alias gurem yang berlangsung kemarin. Pada pertemuan tersebut, Gerindra memperoleh dukungan dari parpol-parpol tersebut untuk mencalonkan Prabowo sebagai capres.
Dengan "bala bantuan" perolehan suara satu parpol papan menengah, Prabowo pun dipastikan dapat melenggang ke pertarungan pemilu presiden mendatang. Sejak kemarin, Prabowo juga telah melakukan serentetan pertemuan dengan sejumlah elite parpol kelas menengah.
Pada Kamis (14/5) sore ini, misalnya, tercatat Prabowo bertemu dengan Ketua Majelis Syuro PKS Hilmi beserta fungsionaris Suripto di Dharmawangsa. Lantas, apa sebenarnya yang paling diinginkan Prabowo dan Gerindra?
"Kami sebenarnya tetap memprioritaskan berkoalisi dengan PDI-P. Sebab, secara umum, Gerindra dan PDI-P memiliki kesamaan platform politik. Kami sangat berharap Gerindra-PDI-P pada akhirnya mencapai titik temu," ujar Direktur Gerindra Media Center Haryanto Taslam, Kamis malam di Jakarta.
Menurutnya, berkoalisi dengan parpol gurem sangat merepotkan mengingat jumlahnya yang sangat banyak. Tentunya, hal ini berpotensi menjadi bottle-neck dalam pengambilan suatu keputusan.
Mari kita simak sepak terjang Gerindra. Akankah Gerindra pada akhirnya berkoalisi dengan PDI-P? Ataukah Gerindra akan menjadi lawan PDI-P?
