SLEMAN, KOMPAS.com - Sejak merebaknya isu flu babi dua minggu terakhir, peternak babi di Kabupaten Sleman, DI Yogyakarta, mulai mengeluhkan penurunan permintaan dari pasar. Hal ini juga mengakibatkan harga jual daging babi turun 20 persen dari harga sebelum flu babi merebak.
Tukiyo, ketua kelompok peternak babi Sempulur Dusun Mejing Lor, Desa Ambarketawang, Kecamatan Gamping, Sleman, mengatakan, sejak dua minggu terakhir belum ada permintaan sama sekali dari pemesan langganan di Bandung maupun Jakarta.
"Sebelum ada isu flu babi, biasanya satu minggu mereka pesan hingga dua kali," ujarnya ketika ditemui Senin (4/5). Dalam satu kali pengiriman, Tukiyo mengatakan bisa mencapai 5 ton babi senilai sekitar Rp 75 juta.
Sepinya permintaan itu dikatakan Tukiyo karena pasar-pasar di Bandung dan Jakarta membatasi pembelian babi akibat turunnya permintaan masyarakat. "Hal ini membuat harga daging babi juga turun dari Rp 15.000 per Kg menjadi hanya Rp 12.000-Rp 13.000 per Kg," katanya.
Hal serupa juga dikeluhkan Heri Yamtono, ketua kelompok peternak babi Waras Dusun Mejing Wetan. Stok babi selama dua minggu sekarang menumpuk karena pemesan belum mengambil. "Rencananya baru hari ini pemesan akan ambil, tapi tidak tahu jadi atau tidak," ujarnya.
Kelompok peternak Waras Mejing Wetan terdiri dari 10 peternak dengan total populasi 400 ekor babi. Sebelum diserang isu flu babi, kelompok ini biasa mengirim daging babi 2-3 kali dalam seminggu dengan tujuan pasar Jakarta dan Bandung dengan volume 6 ton sekali kirim.
Menurut Heri, isu flu babi saat ini berdampak lebih besar dari serangan kolera pada 2006 lalu. "Kalau dulu, kerugian hanya dari banyaknya babi yang mati. Tapi kalau sekarang, selain pasaran mati, harga juga anjlok," ujarnya. Saat ini Sleman memiliki sekitar 4.500 populasi babi yang tersebar di 8 dari 17 kecamatan yang ada.
