BRENES, KOMPAS.com - Arus lalu lintas ternak babi melewati pantura mulai turun, menyusul berkembangnya isu flu babi. Meskipun demikian, pemerintah tetap memperketat pengawasan terhadap babi yang melintas, untuk menghindari munculnya wabah flu babi.
Kepala Seksi Kesehatan Hewan Dinas Peternakan Kabupaten Brebes, Jhoni Murahman, Jumat (1/5) mengatakan, berdasarkan data dari Pos Pengawasan Lalu Lintas Ternak Tanjung, Brebes, arus lalu lintas babi mulai turun sejak sepekan lalu. Bisanya, jumlah babi yang melintas mencapai sekitar 400 ekor per hari, namun saat ini hanya sekitar 200 hingga 300 ekor per hari.
Meskipun jumlahnya menurun, pemerintah tetap memperketat pengawasan lalu lintas ternak babi. Menurut Jhoni, selain pemeriksaan terhadap kelengkapan dokumen ternak, petugas juga mengambil air liur babi untuk diperiksa secara klinis. Apabila ditemukan kecur igaan, petugas akan mengambil sampel darah pada binatang tersebut.
"Selain itu, pengetatan pengawasan juga dilakukan di lokasi peternakan. Hal itu dengan memeriksa kesehatan babi, memberikan disinfektan, serta memberikan masker kepada pemilik peternakan dan pegawai yang berhubungan langsung dengan babi. Orangnya juga diberi penyuluhan, dikasih tahu penyemprotan sepekan sekali, karena inkubasi penyakit sekitar lima hari," ujarnya.
Sementara itu, Koordinator Kompartemen Peternakan dan Pertanian Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Kota Tegal, Suatmo juga mengimbau peternak dan konsumen babi untuk waspada terhadap virus flu babi.
Menurut dia, jumlah populasi babi di tiga daerah, yaitu Kabupaten Brebes, Tegal, dan Kota Tegal hanya sekitar 50 ekor. "Meskipun demikian, pemerintah harus memperketat masuknya babi dan turunannya ke wilayah-wilayah tersebut. Justru karena populasinya sedikit, harus diperketat agar tidak banyak yang masuk," katanya.


