Oleh Mohamad Final Daeng
Semilir angin lembah terasa dingin meraba tengkuk pagi itu di Kali Gendol, Kecamatan Cangkringan, Sleman. Pemandangan tebing setinggi 50 meter yang memagari kali yang telah mati itu dan angkuhnya Merapi di latar belakang, sungguh memanjakan mata siapa saja yang tahu keindahan.
Di kali yang sama itu pula, ribuan anak manusia setiap hari menggantungkan hidup dari aktivitas penambangan pasir. Cerita kehidupan mereka boleh jadi sangat bertolak belakang dari lukisan keindahan di atas.
Pekerjaan berat dan penuh risiko harus dilalui para penambang pasir dan sopir truk pengangkut setiap harinya. Apalagi pada musim hujan seperti sekarang, ancaman maut mengintai setiap saat, mulai dari bahaya longsor tebing-tebing di sekeliling kali hingga banjir lahar dingin dari puncak Merapi.
Seperti yang terjadi Kamis (23/4) lalu, 38 truk terjebak akibat jalur kendaraan di Kali Gendol terputus karena tergerus hujan deras. Beberapa truk bahkan terpendam hingga ketinggian 1 meter akibat gelontoran pasir dan tanah. Beruntung tak ada korban jiwa maupun truk yang terjungkal.
Kejadian seperti itu bukan kali pertama. Pada musim hujan ini saja, tercatat telah tiga peristiwa truk pasir terjebak banjir lokal di Kali Gendol. Itu belum menghitung kejadian longsor yang menewaskan penambang pasir.
Meski sudah berulang kali terjadi bencana, para penambang dan sopir truk itu seolah tidak pernah jera. "Mau bagaimana lagi? Ini satu-satunya lahan nafkah saya dan keluarga," kata Eko Saputra (27), salah satu dari sekitar 200 sopir truk yang setiap hari memuat pasir di Kali Gendol, ketika ditemui pekan lalu.
Jika dibandingkan para penambang pasir, pada musim hujan seperti sekarang, risiko terbesar memang ditanggung para sopir truk. Jika hujan lebat turun, yang kemungkinan besar akan menggerus jalur kendaraan di Kali Gendol, mereka tidak bisa dengan cepat menghindar. Sementara itu, para penambang bisa dengan mudah menyingkir dari badan kali jika hujan turun.
Terbatasnya mobilitas kendaraan di medan yang berat membuat truk membutuhkan waktu lebih lama untuk menyelamatkan diri, apalagi yang telah telanjur menambang jauh di hulu. Ini dikarenakan hanya ada satu "pintu" keluar-masuk kendaraan di Kali Gendol, yakni di Dusun Kopeng, yang berjarak sekitar 9 km dari puncak Merapi. Aktivitas penambangan saat ini telah merangsek hingga 6 km dari puncak.
Hal lebih buruk bisa dibayangkan jika yang terjadi bukan hanya gelontoran air saja, melainkan lahar dingin dari puncak Merapi. Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Gunung Merapi mensinyalir masih terdapat sekitar 500.000 meter kubik material sisa erupsi 2006 yang sewaktu-waktu bisa menerjang Kali Gendol.
Hal itu bisa terjadi jika hujan berintensitas 100 milimeter per jam selama tiga jam berturut-turut di puncak Merapi. "Karena itu, sekarang saya hanya berani muat pasir di Kopeng biar bisa cepat keluar kalau hujan turun. Takut terjebak seperti truk-truk yang kemarin kalau terlalu jauh naik ke atas," kata Eko yang telah dua tahun menggeluti pekerjaan ini.
Sanyo (28), salah seorang dari 38 sopir truk yang terjebak, Kamis kemarin, juga berpandangan sama. "Baru Jumat pagi truk bisa keluar, sekarang saya memuat di Kopeng saja biar aman," ujarnya. Biasanya, Sanyo memuat pasir hingga Dusun Jambu yang berjarak sekitar 7 km dari puncak.
Pasir Merapi merupakan sumber penghidupan utama bagi Eko yang hanya lulusan sekolah dasar itu. Setiap hari, ia mengatakan bisa mendapatkan dua rit (bolak-balik) dari Kali Gendol ke Wonosari, Kabupaten Gunung Kidul. Muatan satu truk pasir berkapasitas 5-6 meter kubik itu dijualnya Rp 550.000 ke pemesan.
Setelah dipotong biaya solar, kernet, penambang pasir, retribusi, dan setoran kepada pemilik truk, Eko mengaku bisa memperoleh hasil bersih Rp 30.000-35.000 per rit. Jadi, dalam sehari uang yang dikantongi mencapai Rp 60.000-Rp 70.000. Jumlah itu dinilainya cukup untuk membiayai kebutuhan istri dan seorang anaknya sehari-hari. "Saya juga tidak punya keahlian lain selain membawa truk," ucapnya.
Lain lagi bagi Sanyo, lelaki asal Jepara, Jawa Tengah, itu mengaku mengangkut pasir sebagai sambilan. "Utamanya saya mengangkut muatan lain, seperti genteng dan barang kelontongan dari Jepara ke DIY dan daerah-daerah lain di Jawa Tengah. Daripada saat pulang muatan kosong, lebih baik dipakai angkut pasir," tuturnya.
Hasilnya cukup lumayan, dari sekali mengangkut pasir, Sanyo mengaku bisa memperoleh pendapatan ekstra Rp 100.000-Rp 150.000. Harga pasir yang murah, Rp 100.000-Rp 120.000 per truk, membuat Sanyo juga lebih memilih memuat pasir di Kali Gendol daripada lokasi penambangan lainnya di Jawa Tengah. "Apalagi jika dibandingkan dengan harga di depo-depo pasir yang bisa mencapai Rp 270.000-Rp 280.000 per truk," ujarnya.
Tingginya desakan ekonomi telah sejak lama membuat pasir Merapi di Kali Gendol bak gula yang selalu dirubungi semut-semut. "Semut- semut" itu tampaknya memang lebih takut lapar daripada ancaman bencana yang siap menerjang. Demi perut, apa pun dilakukan, termasuk menantang maut.

