PONTIANAK, KOMPAS.com - Sejarah tercipta di Kalimantan Barat. Alokasi empat anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) kemungkinan semuanya diisi oleh perempuan.
Masing-masing Sri Kadarwati, Maria Goretti, Hairiah, dan Erma Suryani Ranik. Mereka menyisihkan 22 calon laki-laki lainnya.
Maria Goretti memperoleh suara sebanyak 157.279, disusul Sri Kadarwati 151.602. Setelah kedua incumbent tersebut, dua pendatang baru, Hairiah mendapatkan suara 124.854 dan Erma Suryani Ranik 118.340.
"Saya langsung datangi ibu bapak, beritahukan informasi bahagia tersebut. Saya cium tangan orangtua saya. Kemudian kami sujud syukur bersama-sama keluarga lainnya. Bapak yang memimpin," ungkap Hairiah dengan wajah berbinar-binar.
Rekapitulasi penghitungan suara yang dilakukan oleh KPU Kalimantan Barat berlangsung hingga Senin (27/4) pagi pukul 06.00 WIB. Keberhasilah ini, kata Hairiah, lebih disebabkan bantuan dari 200 orang tim relawannya serta keluarga korban trafficking, buruh migran, dan kekerasan rumah tangga yang menjadi kliennya.
Profesi yang ditekuninya pengacara selama 15 tahun. Saat mengunjungi kampung-kampung ketika kampanye lalu, cerita Hairiah, ada yang mengatakan dirinya pernah membantu anggota keluarganya. Akhirnya mereka jadi relawan, bahkan menggandakan kartu namanya dengan biaya sendiri.
"Oh ya kami kenal Ibu. Kami tidak bisa membalas apa yang telah ibu berikan kepada anggota keluarga kami. Ini mungkin sebagai alat untuk membalas budi baik saat jadi pembela tempo hari,"kata pengacara yang mengabdi selama 15 tahun ini menirukan ucapan masyarakat ditemuinya.
Lain Hairiah, lain pula Erma Suryani Ranik. Ia mengetahui dirinya unggul Sabtu (25/4), pukul 00.30 WIB dini hari. Saat itu juga ia memanggil empat kawannya dan seorang keponakannya yang duduk di sekolah dasar (SD). Mereka langsung berdoa bersama sesuai agama masing- masing, Islam, Protestan dan Katolik.
"Hey bangun, Tante Erma menang, duduk jadi anggota DPD,"kata Erma sambil membangunkan Joeasteve Christian, keponakannya yang tiap hari berdoa di gereja setiap hari guna mendoakan dirinya berhasil. Selama masa kampanye kemarin, Erma hanya dibantu empat orang saja. Keempat orang tersebut, satu di ketapang, dua di Kota Pontianak, satu di Sanggau dan satu lagi menangani masalah keuangan.
Tidak jarang, ia acapkali dimintai pulsa telepon seluler melalui pesan singkat. Tiap kali juga, Erma tidak menggubrisnya. Ini tidak terlepas dari dicantumkannya nomor ponselnya di setiap kalender dan kartu namanya.
"Ini buah dari iman, persahabatan, dan lobi dengan caleg sebagai mitra. Saya persiapkan 18 ribu CD berisikan profil saya. Hanya 22 baliho yang dibuat,"kata calon termuda DPD dari Kalbar yang berumur 33 tahun ini. Ia menghabiskan dana tidak lebih Rp 150 juta. Uang itu dipersiapkannya selama 1,5 tahun silam.
Jika kedua srikandi tersebut new comer (pendatang baru), maka Maria Goretti dan Sri Kadarwati justru incumbent. Maria Goretti mengatakan, sejak November 2008 silam ia sudah berkutat, keluar masuk kampung di 14 kabupaten/kota di Kalbar. Malahan, mulai 1 Januari 2009 lalu, sangat jarang berlama-lama berada di rumahnya di Kota Pontianak.
"Hanya ganti koper, di dalamnya terdapat baju kotor, kemudian ganti baju. Tidak berlama-lama di rumah, sudah berangkat lagi ke daerah lain maupun ke Jakarta untuk rapat DPD," cerita Maria Goretti.
Dalam meyakinkan pemilih, ia bekerja sama dengan caleg-caleg partai serta beberapa pentolan partai. Sehingga, namanya lebih dikenal di akar rumput.
"Satu hal yang menjadi pekerjaan rumah (PR) saya, mengenai perbatasan Kalbar dengan negara tetangga, Malaysia. Banyak dialog bersama pemerintah, tapi belum ada implementasinya,"ungkap Maria. (Fakhrurrodzi/Tribun Pontianak)


