
MALANG, KOMPAS.com — Bermodal tubuh tinggi besar dan rambut pendek, Bahri (26), warga Madyopuro, Kecamatan Kedungkandang, Malang, mencoba mencari peruntungan. Korbannya, pasangan muda-mudi yang kerap berpacaran di kawasan velodrome, sirkuit sepeda balap.
Beberapa pasangan yang asyik bermesraan di lokasi yang gelap tanpa penerangan didatanginya. Bahri dengan gaya meyakinkan mengaku sebagai petugas Polresta Malang. Ia meminta kartu identitas para muda-mudi itu dan memeras sejumlah uang atau barang berharga. Jika tidak dikasih uang, Bahri mengancam membawa para sejoli itu ke Polresta Malang.
Namun, aksi premanisme ini terbongkar. Salah satu korban melapor ke Polsekta Kedungkandang yang kemudian menangkap Bahri akhir pekan lalu. “Dia mengancam akan membawa saya sama pacar saya ke Polresta kalau tidak memberikan uang. Karena tidak membawa uang, saya kasihkan ponsel,” kata Rizal, salah satu korban Bahri, Selasa (21/4).
Rizal yang dipalak pada 12 April lalu mengatakan, gaya Bahri mirip dengan polisi. Ia berkata ramah dan bersikap tenang saat menanyakan identitas. Dan, berubah tegas saat mengancam akan membawa mereka ke Polresta Malang.
Bahri, yang masih pengangguran ini, membantah dirinya mengaku-aku polisi dan memalak korban. “Saya cuma mengatakan `Selamat Malam` kepada orang yang pacaran di sana, dan hanya meminta kartu identitasnya,” dalih Bahri, Selasa.
Kanit Reskim Polsekta Kedungkandang Aiptu Sapto Edi mengatakan, kemungkinan korban aksi tipu Bahri banyak. Sangat mungkin korban yang dipalak enggan melapor karena malu. (why)