Selasa, 22 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Selasa, 22 Mei 2012 | 08:52 WIB
Sekolah Berupaya Tingkatkan Kredibilitas
Yulvianus Harjono | Senin, 20 April 2009 | 20:26 WIB
|
Share:

BANDUNG, KOMPAS.com - Sekolah berupaya meningkatkan kredibilitas ujian nasional tingkat SMA dan sederajat tahun ini. Sehingga, di hari pertama, ujian relatif berjalan lancar dan belum ditemukan indikasi kecurangan, termasuk beredarnya kunci jawaban, seperti yang biasa mewarnai tahun-tahun sebelumnya.

Hal itu terungkap di dalam pemantauan hari pertama UN di sejumlah sekolah di Kota Bandung, Senin (20/4). Di hari pertama ini, ada dua mata pelajaran yang diujikan, masing-masing Bahasa Indonesia dan Biologi untuk IPA serta Sosiologi untuk IPS. UN tahun ini pun lebih ketat dikawal aparat kepolisian. Bahkan, hingga ke sekolah- sekolah.

Bachtino Fauzi, pengawas dari Tim Pengawas Satuan Pendidikan (tim pemantau independen dari perguruan tinggi) ditemui di SMAN 1 Kota Bandung mengatakan, ujian hari pertama berjalan lancar dan tertib. Pihak penyelenggara terlihat berupaya maksimal menghasilkan ujian yang kredibel. Namun, pelaksanaannya sedikit terkendala ketiadaan soal cadangan di sekolah.

Soal cadangan tahun ini hanya disediakan di tingkat Sub Rayon. Ia memaklumi ini dilakukan untuk meningkatkan keamanan, yaitu mencegah kepemilikan soal ujian di luar peserta. Menurut Ketua Sub Rayon Bandung Utara, Toni Sutisna, pelaksanaan UN di tahun ini diyakini lebih kredibel dari tahun-tahun sebelumnya.

"Tahun ini, pemindaian soal kan dilakukan perguruan tinggi, melalui Universitas Pendidikan Indonesia. Polisi pun cukup intens dalam melakukan pengawalan. Inspektorat jendral dari Depdiknas pun telah datang ke sini (SMAN 20 Bandung) untuk mengawasi," ujar Kepala SMAN 20 Kota Bandung ini.

Menurutnya, peningkatan kredibiltas UN perlu dalam rangka wacana integrasi UN dan Seleksi Nasional Masuk PTN (SNMPTN). "Rencana memang 2012, tetapi tidak ada salahnya dipersiapkan sejak sekarang," ucapnya.

Terkait pelaksanaan UN, Kepala Dinas Pendidikan Jabar Wachyudin Zarkasyi memadang, yang lebih penting, proses UN berjalan secara obyektif dan jujur. "Tidak ada artinya jika belajar 12 tahun tetapi berbuat curang. Ini akan menghantui mental si siswa seterusnya ke depan," ucapnya.

Menurutnya, UN adalah pencapaian pribadi siswa. Bukan guru, sekolah apalagi kepala daerah.