JAKARTA, KOMPAS.com — Hari ini Komisi Pemilihan Umum (KPU) menghentikan Pusat Tabulasi Nasional Pemilu 2009 di Hotel Borobudur Jakarta. Namun, tabulasi hasil penghitungan suara Pemilu 2009 tetap berlanjut dan dipindahkan di Media Center KPU di Jalan Imam Bonjol No 29 Jakarta Pusat.
Anggota KPU Sri Nuryanti mengatakan tidak ada seremonial khusus untuk mengakhiri proses tabulasi di Hotel Borobudur, tetapi dipastikan prosesnya akan berakhir malam ini. "Hari ini selesai tapi belum ada kesepakatan mungkin akan ditaruh ke sini dan ditayangkan di Media Center," ujar Nuryanti di Gedung KPU.
Terkait dengan tidak tercapainya target 80 persen perolehan suara yang masuk dalam tabulasi, Nuryanti menolak KPU dikatakan gagal. Nuryanti mengatakan, pihaknya tidak menargetkan angka dalam tabulasi elektronik ini. Pihaknya hanya berupaya maksimal untuk memberikan informasi awal penghitungan perolehan suara kepada masyarakat.
"Kita tidak bicara persentase tapi bicara bagaimana maksimal menginfokan kepada masyarakat. Kalau dari segi anggaran ini menghabiskan waktu dan uang karena ada anggaran yang dialokasikan untuk daerah untuk pembelian scanning," tutur Nuryanti.
Nuryanti meyakinkan sistem teknologi ini akan semakin dimantapkan pada proses pemilihan presiden mendatang. Oleh karena itu, Nuryanti meminta semua pihak dapat memandang secara jernih proses tabulasi yang belum mencapai angka 10 persen ini.
Nuryanti mengatakan, pada dasarnya penggunaan scanner sendiri justru sangat membantu. Hanya saja, menurut Nuryanti, memang terdapat kelemahan dalam penguasaan teknologi oleh personel KPU di daerah.
"Teman-teman capek atau ada prioritas lain untuk penghitungan manual. Training memang cuma satu kali dan kita anggap kurang," tandas Nuryanti.
Sementara itu, hingga pukul 16.06 pada hari terakhir tabulasi, jumlah suara yang masuk mencapai angka 13.078.538 suara dari 67.704 tempat pemungutan suara (TPS). Belum satu pun suara dari Provinsi Maluku, Papua, dan Sulawesi Barat yang masuk. Menurut Nuryanti, ketiganya terkendala dengann pembelian sistem teknologi yang tak terintegrasi.
"Seharusnya hardware itu di-purchase dibeli, ada pengadaan hardware kemudian diikuti dengan pengadaan sistemnya. Ketika hardware-nya dibeli sistemnya ada, jaringannya enggak dibeli akhirnya enggak bisa," lanjut Nuryanti.


