JAKARTA, KOMPAS.com — Kelambanan kinerja Komisi Pemilihan Umum (KPU) makin terbukti. Tabulasi hasil penghitungan suara yang bertujuan merekapitulasi perolehan suara nasional secara elektronik menunjukkan betapa kinerja KPU sangat meragukan. KPU dinilai 'gatot' alias gagal total.
Hal ini disampaikan Direktur Komite Pemilih Indonesia (Tepi) Jeirry Sumampow kepada Kompas.com, Senin (20/4). Menurut Jeirry, kegagalan KPU sangat signifikan. Oleh karena itu, sulit bagi masyarakat untuk menjadikan tabulasi hasil penghitungan suara hingga hari terakhir ini sebagai cerminan hasil perolehan suara secara nasional.
Dibandingkan dengan proses tabulasi tahun 2004, Jeirry menilai kelambanan KPU terjadi di semua tahapan tabulasi. Jika pada tahun 2004 kelambatan masuknya data terjadi di awal dan akhir, pada pemilu kali ini kelambatan terjadi mulai dari awal hingga akhir proses tabulasi. "Bahkan jalan di tempat," tutur Jeirry.
Menurut Jeirry, tampaknya tak satu pun komisioner KPU yang paham dengan soal tabulasi. Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) pun baru digandeng di saat-saat akhir. Jeirry menilai tak ada kemauan untuk belajar dari pengalaman tabulasi sebelumnya. Tabulasi yang berlangsung selama sepuluh hari itu hanya bersifat formalitas saja.
Asal ada
Menurut Jeirry, pelaksanaan tabulasi seperti dipaksakan sebagai sebuah upaya untuk menutupi amburadulnya tahap perencanaan yang dilaksanakan oleh KPU di awal. "Akhirnya lebih banyak memboroskan uang negara," lanjut Jeirry.
Jeirry khawatir lambatnya penghitungan suara secara elektronik dapat menjadi cerminan buruknya kinerja KPU pada penghitungan suara secara manual hingga awal Mei nanti.
