Jakarta, KOMPAS.com - Tabulasi Nasional Pusat Pemilu Legislatif 2009 ditutup hari Senin ini. Sampai Minggu (19/4) pukul 21.05, perolehan suara sementara yang ditampilkan pada http://tnp.kpu.go.id berasal dari 59.902 tempat pemungutan suara yang mencakup 11.546.775 suara.
Pemilih yang tercantum dalam daftar pemilih tetap sebanyak 171.265.442 orang. Artinya, suara yang masuk ke tabulasi nasional pemilu hingga semalam baru 6,74 persen. Baru 11,52 persen tempat pemungutan suara (TPS) dari keseluruhan yang mencapai 519.920 TPS yang terdata di Tabulasi Nasional Pusat (TNP).
Bahkan, perolehan suara sementara dari tiga provinsi, yakni Sulawesi Barat, Maluku, dan Papua, belum tersedia. Padahal, data yang ditampilkan di TNP mencakup perolehan suara sementara untuk DPR saja.
Data perolehan suara sementara dari luar negeri juga tidak ditampilkan pada situs TNP. Suara dari pemilih di luar negeri semestinya masuk ke daerah pemilihan DKI Jakarta II.
Saat dikonfirmasi melalui pesan layanan singkat perihal suara dari luar negeri, Ketua Tim Teknologi Informatika TPN Pemilu Legislatif 2009 Husni Fahmi hanya menjawab, ”Sedang dalam proses.”
Sejak 10 April 2009, warga, calon anggota legislatif, dan wartawan dapat memantau proses penghitungan suara elektronik hasil Pemilu Legislatif 2009 di pusat tabulasi nasional pemilu itu.
Secara terpisah, Ketua Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem) Didik Supriyanto, Minggu di Jakarta, menyampaikan, pelaksanaan penghitungan suara elektronik oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) pada Pemilu 2009 menggambarkan ketidaksiapan penyelenggara pemilu. Dari satu hal itu saja, dapat diketahui hal-hal lain yang menjadi tanggung jawab KPU pada Pemilu 2009 dilakukan dengan kondisi ala kadarnya.
”Tabulasi ini sudah dilakukan tahun 2004. Mestinya KPU dan yang bertanggung jawab secara teknis pada tabulasi 2009 bisa belajar dari pengalaman pada Pemilu 2004,” katanya.
Didik, yang juga mantan anggota Panitia Pengawas Pemilu 2004, menambahkan, ada dua kesalahan fatal KPU dalam menyiapkan Pemilu 2009. Pertama, tak mau belajar dari pelaksanaan Pemilu 2004. Kedua, perencanaan berlangsung dalam waktu yang terlalu singkat.
”Dengan perolehan suara sementara yang masuk tak sampai 10 persen, bagaimana peserta pemilu bisa melihat gambaran hasil pemilu?” ujar Didik. Penghitungan cepat oleh lembaga survei ternyata malah bisa menjawab kebutuhan rakyat. (IDR)
