BEKASI, KOMPAS.com — Dinas Kesehatan Kota Bekasi akan memulai pengobatan massal pencegahan filariasis, atau penyakit kaki gajah, tahun kedua. Sebanyak 1,28 juta orang ditargetkan meminum tiga jenis obat, yakni DEC, Albendazole, dan Parasetamol. Kota Bekasi termasuk daerah endemis filariasis.
Hal itu dikatakan Kepala Dinas Kesehatan Kota Bekasi, dr Retni Yonti, dalam sosialisasi program pengobatan massal filariasis di Kota Bekasi tahun 2009 di Gedung Balai Patriot Pemerintah Kota Bekasi, Kamis (16/4). Sosialisasi itu dihadiri jajaran kepala pusat kesehatan masyarakat dan lurah serta camat se-Kota Bekasi, dan kalangan IDI Kota Bekasi.
Filariasis adalah penyakit menular menahun yang disebabkan cacing mikrofilaria. Cacing ini ditular dari dan ke manusia melalui vektor nyamuk. Sebanyak 23 spesies nyamuk menjadi vektor cacing mikrofilaria, termasuk nyamuk Anopheles dan nyamuk Aedes serta nyamuk Culex.
Filariasis disebut pula penyakit kaki gajah karena salah satu gejala klinis filariasis kronis yang tampak adalah terjadinya pembengkakan pada kaki penderitanya. Penyakit kaki gajah ini dapat menimbulkan cacat permanen sehingga mengganggu produktivitas penderita kaki gajah.
Jumlah penderita filariasis yang ditemukan di Kota Bekasi tercatat 46 orang, mereka berada di 12 kecamatan. Dinas Kesehatan Kota Bekasi menargetkan pemberian pengobatan massal tahun kedua ini dilakukan di 46 kelurahan pada 11 kecamatan. "Hanya wilayah Bekasi Selatan yang belum masuk program (pengobatan massal)," kata Retni seusai acara sosialisasi.
Pengobatan massal filariasis digelar serentak dalam dua periode. Periode pertama pada 11 Juni 2009 dan periode kedua pada 12 November 2009. Untuk menjaring warga yang belum meminum obat, Dinas Kesehatan Kota Bekasi melanjutkannya dengan penyisiran (sweeping) selama dua hari setelah pengobatan massal.
