Selasa, 22 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Selasa, 22 Mei 2012 | 08:11 WIB
Kalla di Tengah Jalan Demokrasi dan Kekuasaan...
| Senin, 13 April 2009 | 08:49 WIB
|
Share:

KOMPAS/ALIF ICHWAN
Jusuf Kalla

KOMPAS.com - Pengurus Himpunan Pengusaha Muda Indonesia, Jumat (10/4) malam lalu, menemui Ketua Umum Partai Golkar M Jusuf Kalla di Jalan Diponegoro, Jakarta. Hipmi mendesak Kalla berpasangan lagi dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Menurut Ketua Hipmi Silmi Karim, pasangan SBY-JK sudah membuktikan keberhasilannya. ”Supaya tidak bongkar pasang menteri lagi, pasangan SBY-JK harus dilanjutkan. Dengan berpasangan lagi, program pembangunan yang dilakukan SBY-JK bisa dilanjutkan,” tandas Silmi.

Saat ditanya apakah Kalla menyatakan kesediaannya berpasangan lagi dengan SBY, Silmi menyatakan, ”Pak Kalla mengatakan, kalau untuk kebaikan bangsa, apa pun bisa dilakukan.”

Malam itu juga berdatangan petinggi Partai Golkar. Mereka juga membahas duet kembali SBY-JK.

Kedatangan Hipmi dan para petinggi Partai Golkar terkait dengan komunikasi telepon Kalla-Yudhoyono. Melalui telepon Kalla mengucapkan selamat atas perolehan suara Partai Demokrat. Yudhoyono membalas, ”Ini kemenangan kita bersama.” Ucapan Yudhoyono ini ditafsirkan sebagai isyarat untuk melanjutkan duet SBY-JK.

Namun, hingga kini belum ada yang bisa memastikan seperti apa sikap Kalla. Ia berada dalam posisi sulit untuk menentukan sikap. Ia sebagai pemimpin parpol harus mempertanggungjawabkan perolehan suara Partai Golkar kepada anggotanya. Ia sudah menyerukan siap jadi calon presiden. Ini akan dibahas pada rapat pimpinan nasional khusus (rapimnassus) yang segera dilaksanakan. Tidak mudah baginya menghadapi suasana rapat itu. Kini sudah ada suara yang akan menggugat kepemimpinannya melalui Munas Luar Biasa Partai Golkar sebelum rapimnassus digelar.

Kalla kini menghadapi perolehan suara Partai Demokrat yang melejit lebih dari 200 persen, yang sebelumnya hanya meraih 7,4 persen pada Pemilihan Umum 2004.

Pertanyaan yang kini mengusik adalah jika pemilih menilai duet yang dipimpin SBY-JK dinilai berhasil sehingga perolehan suara Partai Demokrat meningkat, seharusnya perolehan suara Partai Golkar juga meningkat pada pemilu kemarin. Namun, yang terjadi, perolehan suara Partai Golkar merosot.

Mungkin pemilih tidak menggubris apa yang ia lakukan bersama SBY. Mungkin politik citra yang dikemas sedemikian rupa yang memang lebih ”ditunggu” rakyat ketimbang penampilan Kalla yang apa adanya dan lugas berbicara tanpa tedeng aling-aling. Atau karena adanya faktor lain yang sistemik dalam pemilu atau berasal dari faktor internal Partai Golkar sendiri?

Ibaratnya, memang, ia berada di tengah persimpangan jalan. Ia kini harus dihadapkan untuk memilih ”menegakkan” demokrasi atau memilih kursi kekuasaan dengan cara berduet kembali dengan SBY.

Jika ingin ”menegakkan” demokrasi, jalan Kalla menuju kekuasaan jelas sulit. Apalagi jika ia harus memimpin koalisi dengan partai-partai lain yang ”kalah” dan dirugikan suaranya melalui dugaan manipulasi daftar pemilih tetap (DPT) yang sistemik di hampir seluruh TPS. Dengan pilihan itu, ia bersama yang partai lain, seperti PDI Perjuangan, Gerindra, dan Hanura, harus meluruskan berbagai kecurangan pemilu, yang laporannya kini sudah mencapai jumlah ratusan kasus di Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu). Kecurangan itu sebagaimana pernah ia sampaikan dalam keterangan pers, Kamis (9/4) malam lalu.

Sebaliknya, jika ia ingin meraih kursi kekuasaan dalam pemilihan presiden dan wapres yang kedua kalinya, tentu itu akan mudah dilakukan Kalla yang bersama SBY berada pada posisi incumbent. Dengan jargon ”Partai Golkar yang dalam sejarahnya selalu berada dalam pemerintahan”, Kalla bisa langsung memutuskan koalisi bersama SBY dan parpol lainnya untuk mengulang kembali kebersamaan dalam pemerintah sekarang ini.

Tidak jadi apa-apa

Diperkirakan jika dalam pilpres mendatang duet SBY-JK ”terulang”, pasangan ini tak tertandingi. Dengan usia yang sudah 67 tahun pada 15 Mei mendatang, Kalla bisa jadi akan memilih jalan yang mudah menuju kursi kekuasaannya kembali dalam SBY-JK.

Atau, malah bisa jadi, ia memilih pilihan berikutnya, tidak menjadi apa-apa?  (SUHARTONO)

Sumber :
Kompas Cetak