Selasa, 22 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Selasa, 22 Mei 2012 | 07:46 WIB
Melasti di Laut Pasir Tengger
| Minggu, 5 April 2009 | 03:20 WIB
|
Share:

Masyarakat suku Tengger di kawasan Gunung Bromo, Jawa Timur, layaknya umat Hindu lainnya, juga merayakan hari raya Nyepi tahun Saka 1931. Termasuk ritual Melasti yang menjadi gerbang upacara Nyepi.

Dalam Melasti, umat Hindu menyucikan diri. Sarananya adalah air. Tidak seperti umat Hindu di Bali, misalnya, yang umumnya melaksanakan Melasti di pantai, masyarakat Tengger melaksanakan Melasti di kawasan laut pasir Tengger.

Dari desa-desa yang tersebar di kawasan Gunung Bromo, masyarakat berduyun-duyun turun ke laut pasir menggunakan truk dan sepeda motor. Tujuannya Gunung Widodaren yang masih dalam areal laut pasir.

Setiba di lereng Gunung Widodaren, pertama-tama orang harus mendaki jalan setapak Gunung Widodaren sejauh 300 meter untuk mendapatkan air. Ada dua tebing di gunung itu yang meneteskan air jernih.

Air-air yang ditampung kemudian dibawa turun ke lereng gunung, tempat Padmasana atau takhta Sang Hyang Widi berada. Di sekitar Padmasana, air berikut pusaka-pusaka desa serta ragam sesaji didoakan.

Seorang pandhita memimpin upacara. Pada akhir prosesi, umat diperciki tirta sebagai lambang pembasuhan diri. Beras yang juga telah diperciki tirta pun dilekatkan di kening sebagai lambang hening pikiran.

Setelah upacara Melasti purna, masyarakat Tengger pulang kembali ke desanya masing-masing. Setidaknya ada tiga komunitas besar yang mengikuti Melasti di laut pasir Tengger itu. Mereka adalah masyarakat Tengger dari Kecamatan Sukapura dan Kecamatan Sumber di Kabupaten Probolinggo, serta Kecamatan Tosari di Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur.

Foto-foto dan Teks: Laksana Agung Saputra