Jumat, 31 Oktober 2014

News / Regional

Perpustakaan Harus Jadi Pusat Ilmu

Selasa, 31 Maret 2009 | 21:27 WIB

 

BANDUNG, KOMPAS.com- Perpustakaan mesti mengubah citra. Bukan sekadar tempat penyimpan buku-buku, melainkan adalah pusat ilmu pengetahuan dan cermin peradaban. Untuk itu, perpustakaan di berbagai tempat harus dikemas lebih menarik dan dinamis menjadi pusat kunjungan masyarakat.

"Kalau kita pergi ke luar negeri, misalnya saja Singapura, perpustakaan itu tempat yang ramai dikunjungi. Di tempat kita berbeda. Perpustakaan identik tempat yang gelap, kumuh, dan penuh buku. Kita harus mengubah image (citra) ini," tutur Wakil Gubernur Jawa Barat Dede Yusuf saat membuka Rapat Kerja Pengelola Perpustakaan Daerah Se-Jabar, Selasa (31/3) di Bandung.

Ia berharap, pengelola perpustakaan di berbagai daerah dapat berinovasi dengan memasukkan unsur-unsur rekreasi dan edutainment ke dalam lembaga ini. Tidak melulu konservatif hanya berupa tempat menyimpan buku-buku. "Misalnya dibuat taman bermain (bacaan), biar anak-anak mau datang dan betah," ucapnya. Atau, membuat suatu lomba penulisan kreatif atau memperbanyak buku pelajaran komik yang bisa merangsang anak bergairah membaca.

Pemikiran ini dilandasi keprihatinan minimnya minat baca masyarakat, khususnya di tingkat kanak-kanak. Mereka sekarang lebih gemar main Playstation (video game) daripada baca. "Ini, yang saya tahu, bahkan merambah ke desa-desa. Makanya, kalau tidak kreatif, perpustakaan bisa ditinggalkan," ucapnya. Padahal, menurut Dede, perpustakaan punya peran besar dalam menekan buta aksara sekaligus meningkatkan minat baca.

Terkait imbauan ini, Kepala Badan Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Provinsi Jabar Dedi Djunaedi membenarkan, perpustakaan di masa sekarang ini harus tampil lebih menarik. Untuk itu, pada 2010 nanti, Bapusda Jabar akan melakukan perubahan besar di desain ruangan perpustakaan. "Desain lay out-nya dibuat lebih menarik. Warna-warna yang digunakan pun lebih terang dan mencolok," ucapnya.

Secara bertahap, dengan fokus mengajak lebih banyak pembaca di usia dini atau kanak-kanak, Bapusda Jabar telah menjalankan program story telling untuk anak-anak. Lalu, membuka bimbingan layanan belajar untuk siswa TK-SD yang tengah menghadapi ujian. "Kami pun sudah memiliki ruangan yang ada home theatre-nya," ucapnya.

Setiap hari, ia mengklaim, Bapusda Jabar dikunjungi sekitar 1.000 orang, mayoritas pelajar.

Cermin peradaban

Dalam kesempatan sama, Sekretaris Utama Perpustakaan Nasional Sri Sularsih mengatakan, saat i ni, pertumbuhan tingkat kunjungan ke perpustakaan semakin membaik dari waktu ke waktu. Namun, belum tumbuh betul kecintaan masyarakat untuk senantiasa membaca dan ebrkunjung ke masyarakat. Untuk itu, terobosan melalui variasi-variasi dari pelayanan perpus takaan perlu terus dimunculkan.

"Bagaimanapun, keberadaan perpustakaan tidak bisa dilepaskan dari peradaban suatu masyarakat. Tinggi rendahnya peradaban dari suatu masyarakat tercermin pula dari kualitas perpustakaan yang dimiliki," ucapnya.


Editor :