JAKARTA, KOMPAS.com — Tim SAR pencari korban petaka Situ Gintung, Minggu pagi ini, akan melanjutkan tugasnya. Tim akan menyusuri Kali Pesanggrahan untuk mencari korban. Namun, mereka memerlukan dukungan peralatan, seperti sepatu bot, masker, sarung tangan, dan cangkul.
Bambang dari Media Center Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) mengatakan hal itu, Sabtu (28/3). Tim SAR terdiri dari anggota Polri, TNI, dan sukarelawan dari berbagai instansi. Jumlah mereka mencapai lebih dari seratus orang.
Sepanjang Sabtu kemarin, tim SAR dan warga menemukan 29 jenazah korban petaka Situ Gintung. Dengan demikian, total korban tewas mencapai 93 orang dan yang belum diketahui nasibnya sebanyak 102 orang.
Pencarian jenazah kemarin di lokasi bencana Kampung Poncol dan Kampung Gintung, Cirendeu, terkendala hujan yang turun pada siang hari. Areal bencana yang sempat dibersihkan dari lumpur dan puing kembali dialiri lumpur.
Luberan lumpur yang amat banyak di lokasi menyulitkan pencarian korban. ”Kalau hanya banjir air mungkin mudah karena jenazah akan mengambang,” tutur Anshori, koordinator lapangan di posko STIE Ahmad Dahlan.
Tim SAR gabungan masih berkonsentrasi mencari korban di tempat kejadian utama, yakni di Kampung Poncol dan Kampung Gintung. Selain itu, mereka juga menyisir Kali Pesanggrahan sepanjang 4 kilometer.
Alat berat pengeruk juga dioperasikan untuk mengeruk puing bangunan yang hancur. Tim SAR juga mengangkut mobil-mobil yang terempas air bah hingga tersangkut di pemakaman.
Buchori (33), sukarelawan, menyatakan, sekitar pukul 11.00 ditemukan dua jasad di belakang Kampus UMJ. ”Saya mengevakuasi jasad lelaki usia 30 tahunan dari tumpukan kayu,” ujarnya.
Jalannya evakuasi sangat terbantu oleh banyaknya tenaga dan mobil jenazah yang siap beroperasi. Setelah mendapat keterangan penyebab kematian, sebagian jenazah dibawa pulang anggota keluarganya.
Sehari sebelumnya, karena kondisi darurat, sembilan jenazah dimakamkan dalam satu liang di pemakaman Kelurahan Cirendeu, Ciputat Timur, Kota Tangerang Selatan.
Pengungsian
Dua tempat pengungsian yang dibuka di Kampus Fakultas Hukum (FH) dan Fakultas Kedokteran (FK) UMJ sampai kemarin masih dihuni sekitar seratus pengungsi korban bencana. Sebagian korban memilih tinggal di rumah kerabat daripada di pengungsian.
”Saya ajak dia dan keluarganya pindah ke rumah saya karena saya takut kalau hujan deras turun,” kata Ny Ramti sambil melihat Yuli dan tiga anaknya. Yuli sekeluarga menjadi korban bencana Situ Gintung. Anak-beranak itu selamat, tetapi rumah beserta isinya rusak.
Para pengungsi di gedung FH UMJ baru kemarin mendapat kasur. ”Sebelumnya kami kedinginan karena tidur di karpet. Mana tak ada air panas untuk bikin minuman penghangat badan. Tetapi alhamdulillah hari ini kami dibagi kasur busa,” kata Dahroni, salah seorang pengungsi.
Pasokan makanan, air minum, baju, dan selimut cukup, bahkan berlimpah. Kondisi tempat pengungsian di Gedung FK UMJ bersih sebab setiap orang dilarang memakai alas kaki agar tak mengotori lantai.
Bantuan dari berbagai pihak terus berdatangan, termasuk dari Dana Kemanusiaan Kompas (DKK) yang selama dua hari terakhir menyalurkan bantuan senilai Rp 30 juta lewat Kodam Jaya dan mahasiswa UMJ. ”Kami menyalurkan melalui Kodam dan mahasiswa UMJ karena mereka yang lebih tahu titik lokasi korban yang membutuhkan,” kata Sugianto, tenaga staf DKK yang berada di lokasi.
Bantuan berupa nasi bungkus, air mineral, biskuit, beras, gula, mi instan, dan minyak goreng. Ada pula 200 sarung, 200 selimut, 20 lusin kaus, 2 lusin kemeja, dan 15 lusin pakaian dalam. (BDM/KSP/WIN/SF/TRI)

