TANGERANG, KOMPAS.com - Penyakit luka-luka dan kulit dominan dialami para pengungsi korban tragedi Situ Gintung, Kelurahan Cireunde, Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang Selatan, Banten.
Penanggungjawab posko kesehatan peristiwa Situ Gintung, drg. Maya Mardiana dihubungi Sabtu malam mengatakan penyakit kulit dan luka-luka mayoritas diderita pengungsi.
"Dari laporan medis yang kami terima banyak pengungsi menderita penyakit kulit," katanya.
Dia mengatakan dari 173 pasien pengungsi korban air bah Situ Gintung semuanya merupakan berobat jalan dan tidak ada yang dirujuk ke rumah sakit terdekat.
Dari 173 pasien yang berobat sejak Jumat (27/3) pagi hingga Sabtu (28/3) malam tidak ada yang menderita penyakit serius yang harus ditangani medis secara serius.
Selain itu, ada juga beberapa pasien yang menderita pusing dan muntah, tapi jumlahnya tidak lebih dari lima orang pengungsi.
Dia mengatakan, biasanya para pengungsi menderita diare akibat sanitasi lingkungan karena pengaruh makanan dan minum air bersih, tapi hingga saat ini belum ditemukan.
Namun ada juga seorang pasien yang digigit ular, tapi tidak mengalami luka serius dan dapat diobati di posko kesehatan setempat.
Posko kesehatan yang berada di lantai I kampus STIE Ahmad Dahlan dikelola oleh sejumlah instansi terkait seperti dari Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Kabupaten Tangerang, RS Pelni dan RS Bintaro serta PMI pusat.
Sedangkan posko kesehatan lainnya juga didirikan di kampus Universitas Muhammadiah Jakarta (UMJ), dan petugas medis melaporkan hampir sama para pengungsi mengalami penyakit serupa.

