SURABAYA, KOMPAS.com — Wakil Presiden Jusuf Kalla mengharapkan jembatan penghubung Surabaya (Pulau Jawa) dengan Pulau Madura (Suramadu) yang dibangun sejak masa Presiden Megawati pada tahun 2003 itu sudah berfungsi pada tanggal 12 Juni 2009.
"Jembatan itu pasti lebih murah dibanding (jika transportasi dengan sarana transportasi) feri. Juga, lebih cepat dan aman," katanya saat meninjau pembangunan Jembatan Suramadu yang hampir selesai di atas jembatan itu, Senin (23/3).
Namun pemeliharaannya, katanya, juga harus diperhatikan karena jembatan yang menghubungkan antara Kota Surabaya dan Kabupaten Bangkalan tersebut berdiri di atas air laut yang asin dan mudah membuat besi berkarat.
Ia mengingatkan, jembatan itu dibiayai dengan utang sehingga harus ada biaya yang dikembalikan oleh masyarakat, tetapi tarifnya tetap harus lebih murah dari feri.
Dirjen Bina Marga Hermanto Dardak yang menjelaskan laporan kemajuan dari proyek itu mengatakan, jembatan tersebut akan menjadi pemicu bagi perkembangan Madura dan diharapkan akan meningkatkan perekonomian masyarakat yang selama ini tertinggal. "Jembatan itu merupakan sejarah baru dalam dunia transportasi Indonesia," katanya.
Menurut Hermanto, penyelesaian jembatan Suramadu pada Maret ini sudah mencapai 93 persen dari total panjang jembatan 5.438 meter.
Jembatan itu terbagi atas causeway sisi Surabaya sepanjang 1.458 m, jembatan pendekat (approach bridge) sisi Surabaya 672 m, cable stay bridge 818 m, jembatan pendekat (approach bridge) sisi Madura 672 m, dan causeway sisi Madura 1.818 m. Sedangkan jalan akses Surabaya 4,35 km dan jalan akses Madura 11,5 km.
"Sisi Surabaya sudah 100 persen, tapi sisi Madura untuk jalan pendekat baru 89,79 persen, meskipun pembangunan jalan dan causeway sudah 100 persen," katanya.
Untuk bentang tengah, yakni cable stay masih 85,32 persen dan approach bridge 79,29 persen.
