JAKARTA, KOMPAS.com — PT Pertamina (Persero) menjanjikan harga elpiji kemasan tabung 12 kg tidak mengalami perubahan selama masa pemilu.
"Kami akan tahan harga elpiji 12 kg sampai pemilu berakhir," kata General Manager Gas Domestik Pertamina Wahyudin Akbar di Jakarta, Selasa (17/3).
Pertamina, lanjutnya, juga menjamin pasokan elpiji selama masa pemilu tetap aman. "Masyarakat tidak perlu khawatir, elpiji banyak tersedia di pasar," katanya.
Saat ini, stok Pertamina mencapai 200.000 ton atau cukup buat memenuhi kebutuhan masyarakat lebih dari 20 hari ke depan dengan konsumsi sekitar 7.000 ton per hari.
Kebijakan harga tersebut sejalan dengan keinginan pemerintah yang meminta Pertamina tidak menaikkan harga elpiji 12 kg selama tahun ini.
Saat ini, Pertamina menjual elpiji tabung 12 kg di tingkat agen sebesar Rp 5,750 per liter atau Rp 69.000 per tabung.
Harga agen tersebut jika sampai ke konsumen berkisar antara Rp 75.000-Rp 80.000 per tabung tergantung jarak distribusinya.
Sesuai aturan, harga elpiji 12 kg memang diusulkan Pertamina kepada pemerintah. Sedangkan harga elpiji 3 kg ditetapkan pemerintah mengingat kemasan tersebut mendapat subsidi.
Meski demikian, Pertamina mengaku selalu mengalami kerugian dalam bisnis elpiji 12 kg. Pada tahun 2009, Pertamina memperkirakan akan mengalami kerugian Rp 3,47 triliun dari penjualan elpiji kemasan 12 kg.
Angka kerugian tersebut dihitung dengan asumsi harga elpiji internasional yang mengacu contract price (CP) Aramco bulan Januari 2009 sebesar 505 dollar AS per ton dan kurs Rp 11.600 per dollar AS.
Dengan acuan tersebut, maka harga keekonomian elpiji sampai ke konsumen mencapai Rp 8.943 per liter.
Selanjutnya, dengan harga jual ke konsumen Rp 5,750 per liter dan rencana penjualan elpiji 12 kg tahun 2009 mencapai 1.085.430 ton, maka kerugian yang ditanggung Pertamina mencapai Rp 3,47 triliun.
Namun, pemerintah menyatakan akan menghitung kembali kerugian yang diklaim Pertamina tersebut. Dirjen Migas Departemen ESDM Evita Legowo tidak percaya dengan nilai kerugian yang disampaikan Pertamina. "Itu kan kata dia (Pertamina). Sekarang, kami hitung apa benar mereka rugi," katanya.
