MALANG, SELASA — Nasib bocah ini tak seindah namanya. Kenyataan pahit dialami Yusdika, bocah usia 10 tahun asal Dusun Plosokerep, Singosari, Malang.
Sekujur tubuhnya, termasuk rambutnya, dipenuhi semacam kutil dan sisik. Hidup di tengah keluarga miskin membuat Yusdika dan ibunya pasrah menunggu uluran tangan.
Untuk sampai di rumah Yusdika, harus turun dan melapor kepada dua tentara penjaga. Dika, demikian Yusdika dipanggil ibunya, bukan anak pejabat. Hanya kebetulan, rumahnya yang masih beralaskan tanah itu terletak di kompleks perumahan TNI AU, dekat Landasan Udara Abdurrahman Saleh.
Seorang wanita tak terlalu tua, dengan wajah letih, keluar menemui Surya. Dengan hangat ia mempersilakan kami masuk rumahnya. Dialah Muslikah (37), ibunda Yusdika.
Ia lalu memanggil Yusdika, anak sulung dari pernikahannya dengan Dasman, pria yang enam tahun lebih tua darinya. “Sudah tiga tahun ini bapaknya Dika minggat, pergi tanpa kabar,” ujar Muslikah dengan ekspresi wajah yang biasa saja.
Dika keluar. Bocah yang suka main sepak bola ini memakai hem lengan panjang warna putih serta celana panjang dengan sedikit lubang di lututnya. Selama kami berbincang dengan Muslikah, Dika lebih banyak diam. Ia hanya menjawab ketika ditanya. Sesekali ia bergelayut manja, menempelkan wajah di lengan ibunya.
Kulit Dika terlihat memutih, seperti halnya kulit setelah mendapat luka. Ketika ia memperlihatkan lututnya, kulitnya dipenuhi semacam krusta, (semacam tetelan bekas luka yang sudah mengering). “Biasanya seluruh tubuhnya dipenuhi seperti ini (krusta). Hanya tadi pagi barusan nglontoki (mengelupas), jadi kelihatan bersih,” terang Muslikah.
Setelah krusta ini rontok, menurut wanita yang melahirkan Yusdika di Tanjungbatu, Batam ini, tak lama krusta itu akan tumbuh lagi memenuhi tubuh putranya. Biasanya, bangun tidur, rontokan krusta ini akan memenuhi seprei tempat tidur Dika.
Tak hanya kulit, rambut Yusdika tak luput dari serangan. Bentuknya lebih mirip sisik ikan. Dua kali sebulan, rambut ini harus dipotong karena terasa kaku dan berat bila sedikit panjang. Apa tidak gatal? “Enggak,” kata Yusdika sambil menggelengkan kepala. Menurut Dika, meski kulitnya dipenuhi krusta dan terlihat seperti sisik ikan, saat krusta itu lepas ia tak merasakan gangguan fisik apa pun, seperti gatal atau rasa panas.
Yang merisaukan Dika sebenarnya lebih pada tekanan psikologis. Menurut Muslikah, sejak mengidap penyakit ini, ia sering diolok-olok teman sebayanya di kampung. “Sampai sekarang kalau bermain, anak saya suka sendiri. Ia minder selalu diejek teman-temannya. Ada yang bilang bau, atau disuruh menjauh karena takut tertular,” ucap Muslikah.
Padahal, badan Yusdika tidak bau. Ia mandi dua kali sehari. Soal menular, sepertinya juga tidak sepenuhnya benar. Buktinya, adik Yusdika, Sheila Faradita (2,5), berkulit bersih. Padahal, ia main, makan , bahkan mandi satu sabun dengan kakaknya.
Karena itulah Yusdika enggan sekolah. Ia malu, bakal jadi bahan ejekan teman-temannya. “Selain itu, memang, kodisi ekonomi saya sangat kekurangan,” ucap Muslikah, seorang buruh tani dengan upah Rp 8.000 per hari ini.
Hingga kini Muslikah tak tahu penyakit apa yang menyerang anaknya. Yang ia tahu, penyakit ini sudah hinggap sehari setelah Dika lahir. “Saat lahir, Dika normal. Lalu, saya beri susu,” kenang Muslikah yang mengaku tak pernah memberi Yusdika dengan ASI seraya menyebut nama salah satu merek.
Entah berkaitan atau tidak, sehari setelah diberi susu ini, Yusdika kecil lalu menangis. Tubuhnya melepuh seperti tersiram air panas. Semenjak itu, fenomena ’sisik’ di tubuh Dika berlanjut.
Hanya sekali, seingat Muslikah, Dika diperiksa di RS Saiful Anwar Malang saat ia berusia 5 tahun. “Saat itu hanya dibilang kena penyakit kulit. Disuruh kontrol dan kembali lagi, tapi saya nggak punya biaya,” kata Muslikah.
Lima bulan lalu, saat ikut khitanan masal, seorang tenaga medis di klinik AURI, kompleks Lanud Abdurahman Saleh, bersimpati dengan kondisi Yusdika. Di klinik AURI, Dika sempat mendapat upaya pengobatan hingga lima kali meski hasilnya tetap nihil.
Hingga kini, lanjut Muslikah, belum ada pihak yang menawari bantuan pengobatan. Hanya saja, ada sedikit warga dan tetangga yang memberi sumbangan uang karena simpati.
Hidup tanpa suami mempersulit Muslikah, karena tak bisa mondar mandir mengantar sang anak. Mengenai BLT (bantuan langsung tunai) maupun Jamkesmas, Muslikah juga tak tahu cara mengurusnya. “Saya sangat bergantung dermawan untuk mengobati anak saya, karena buat kami, bisa makan saja sudah untung,” ujar Muslikah.
Ketika ditanya, apakah ingin sembuh dan bersekolah, Yusdika mengangguk. Seperti menyembunyikan sebulir air mata yang jatuh dari pelupuk matanya, ia lalu membenamkan wajahnya lagi ke lengan ibunya.
Mengidap Pellagra
Sementara itu, dr Agus Wahyu Arifin MM, Kadinkes Kabupaten Malang, menyatakan, Pemkab Malang akan membantu Yusdika hingga sembuh. “Mudah-mudahah yang dideritanya adalah penyakit pellagra dan bisa disembuhkan,” ujar dr Agus, Senin (9/3).
Pellagra adalah sejenis penyakit kulit akibat kekurangan vitamin. Sangat dimungkinkan karena penderita merupakan keluarga miskin sehingga asupan gizi berisi vitamin sangat kurang.
“Lebih penting lagi adalah dari sisi kebersihan kurang diperhatikan sehingga membantu penyakit ini,” katanya. Menurut informasi yang diperoleh dr Agus, penderita pada usia lima tahun pernah dirawat ke RSSA Malang, tapi bagaimana kelanjutannya ia tidak tahu. Yang jelas, pihaknya masih menunggu hasil evaluasi atas penyakit ini. Selanjutnya, apakah nanti akan dirujuk ke RSSA Malang atau cukup dirawat di puskesmas setempat, akan segera diputuskan.
“Penderita akan kita bantu meski mungkin nanti ia tidak terdaftar di Jamkesmas. Cukup keterangan dari desanya, maka Pemkab Malang akan membantu pengobatannya,” katanya. Pellagra merupakan endemis yang berkembang di sejumlah negara, seperti Afrika, Meksiko, Indonesia, dan Tiongkok. Umumnya penyakit ini menjangkiti masyarakat miskin yang tidak menjaga kebersihan lingkungan.(Aji Bramastra)

