Oleh: Inggried Dwi Wedhaswary
Selama ini para pemilih tunanetra menyiapkan seorang pendamping yang akan menemaninya di bilik suara. Kini, dengan adanya alat bantu berupa template surat suara berhuruf braille, para penyandang tunanetra bisa menggunakan hak pilihnya secara lebih rahasia meskipun masih terbatas pada pemilu anggota DPD dan pemilu presiden.
"Sebetulnya, azas luber (langsung, umum, bebas, dan rahasia) tidak hanya untuk orang normal, tapi teman-teman penyandang cacat yang sulit ke TPS karena keterbatasan fisik atau yang tidak bisa melihat karena buta, ada jalan keluarnya," ujar Irwan Dwi Kustanto, desainer alat bantu pemilu kepada Kompas.com pekan lalu.
Ide mendesain template alat bantu yang berbentuk persis surat suara muncul dari keinginan Irwan untuk bisa menggunakan hak pilihnya secara benar-benar rahasia. Selama ini Irwan yang juga tunanetra memasuki bilik suara bersama seorang pendamping yang dipilihnya. Cara ini menurut dia masih mengandung keraguan bahwa si pendamping akan menjaga kerahasiaan pilihannya.
"Meski ada pendamping, kami enggak bisa percaya begitu saja. Siapa yang bisa menjamin bahwa dia memilihkan sesuai pilihan saya," kata Irwan yang pernah mendesain alat bantu untuk beberapa pilkada di sejumlah daerah.
Pada pemilu tahun ini alat bantu pemilu baru tersedia untuk pemilu anggota DPD dan pemilu presiden. Sementara itu, untuk pemilihan anggota DPR dan DPRD belum terakomodasi. Ia berharap pemilu lima tahun mendatang bisa memberikan kesempatan bagi tunanetra menikmati alat bantu itu untuk semua pemilihan.
"Dari empat pemilihan, baru satu yang diakomodasi. Ini tidak bisa dibilang sudah terakomodasi seluruhnya. Kami harap pemilu berikutnya bisa terwujud semua," ujar dia.
Kini, para tunanetra bisa bernapas lega. Alat bantu itu sudah tersedia di semua provinsi di Indonesia. Bagaimana lima tahun mendatang? Harapan Irwan, harapan para tunanetra lainnya, semoga menjadi nyata.
