Sabtu, 25 Oktober 2014

News / Regional

Jalur Wisata Wonosobo-Dieng Terputus

Jumat, 27 Februari 2009 | 19:03 WIB

WONOSOBO, JUMAT - Jalur wisata Dieng dari Wonosobo di kilometer 21 terputus setelah ruas jalan ambrol dan dipenuhi guguran tanah disertai batu-batu besar dari lahan pertanian kentang warga yang longsor. Bahkan ada dua orang wisatawan Jerman terpaksa jalan kaki untuk mencapai lokasi wisata.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, jalan itu ambrol, Kamis (26/2), setelah ditimpa batu besar yang diperkirakan berbobot 30 ton . Batu itu pun menggelinding tepat di permukaan jalan dan sempat berhenti sesaat. Namun karena batu tersebut cukup berat tetapi permukaan jalan pun tak kuat menopangnya, hampir separuh permukaan jalan itu pun akhirnya ambrol dan batu itu menggelinding lagi jatuh ke jurang sedalam 200 meter.

Menurut Camat Kejajar Sumeto Hendro, selain di kilometer 21, longsor dari lahan pertanian warga juga menimpa ruas jalan di kilometer 19. Kejadian itu hanya berlangsung selama satu jam saat hujan turun. Jalur yang berada di Desa Tieng, Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo, atau tak jauh dari Gardu Pandang Dieng itu masih belum dapat dilalui kendaraan.

"Ruas jalan kilometer 19 sudah bisa dibuka jalannya berkat kerja gotong royong warga, karena longsorannya tak disertai batu-batu besar," katanya. Namun untuk memperbaiki ruas jalan yang ambrol akibat tertimpa batu dibutuhkan waktu cukup lama, karena amblesan cukup dalam dan lebar.

Jika hanya ditambal dengan tanah pun tak akan menyelesaikan masalah karena tanah tambalannya bisa longsor lagi. Sementara ini, warga hanya bisa membersihkan permukaan jalan yang tertutup tanah saja. "Selebihnya kami menunggu perbaikan jalan dari Bina Marga," kata Sumeto.

Mengantisipasi ketidaknyamanan perjalanan para wisatawan ke Dieng, Kepala Dinas Pariwisata Wonosobo Azis Wijaya mengatakan, pihaknya sudah memberikan pengumuman lewat Humas Pemerintah Kabupaten Wonosobo, agar semua perjalanan wisata ke Dieng dialihkan lewat Banjarnegara. Hal itu berarti, perjalanan ke Dieng hanya bisa melalui Banjarnegara-Karangkobar-Batur-Dieng dengan kondisi jalan lebih berkelok-kelok dan menukik dibandingkan jalur Wonosobo-Dieng.

"Saya kira butuh beberapa waktu untuk memperbaikinya," paparnya. Azis mengaku, belum dapat memastikan sampai kapan jalur Wonosobo-Dieng itu bisa diakses kembali. Kerusakannya cukup parah, hampir separuh badan jalan ambles.

Baik Azis dan Sumeto mengakui, kejadian itu merupakan dampak nyata dari kerusakan alam akibat maraknya pertanian kentang di sekitar Dieng. Keuntungan pertanian kentang mendorong petani terus memperluas lahannya dan memangkas tanaman keras agar tanaman kentang mereka memperoleh sinar matahari yang cukup.

Sejak tahun 2005 sampai sekarang, kami sudah terus mengampanyekan penanaman tanaman keras di sekitar lahan kentang. "Namun memang upaya ini tidak mudah, butuh usaha terus menerus untuk meyakinkan petani pentingnya tanaman keras di sekitar lereng Dieng," kata Azis menjelaskan.


Editor :