Kamis, 2 Oktober 2014

News / Regional

Berburu Babi di Hutan Sumsel

Kamis, 26 Februari 2009 | 11:31 WIB

Sulaiman (34) dan lima kawannya sibuk menyiapkan tali, jerat kawat, palang kayu, dan pisau untuk perburuan babi hutan. Selasa (24/2) siang itu, warga Leban Akar, Talang Kelapa, Banyuasin, Sumatera Selatan, ini juga melengkapi bawaannya dengan makanan dan pakaian ala kadarnya sebagai bekal bertahan hidup di hutan.

Setelah semua siap, Sulaiman masuk rumah, menemui istri dan kedua anaknya yang masih kecil. ”Kito nak jingok masuk hutan dulu. Bulan ini caknyo bagus nian kalau nak berburu babi. Doanyo bae man kito berenam selamat balik (Kami berangkat dulu masuk hutan. Ini musim bagus untuk berburu babi hutan. Doakan saja kami berenam pulang dengan selamat),” ujar Sulaiman berpamitan setelah mengecup kening istri dan anak-anaknya.

Dalam sekali perburuan, Sulaiman bisa menghabiskan waktu hingga tujuh hari. Dengan rentang waktu yang demikian, dia dan rombongan biasanya menangkap minimal 10 babi.

Mereka memburu binatang tersebut bukan untuk dikonsumsi, melainkan untuk  memberantas hama perusak tanaman agrobisnis di kampungnya. ”Tapi, hewan itu bisa dijual kepada pengepul yang berasal dari Kota Palembang,” ujar Sulaiman.

Satu ekor babi hutan dewasa seberat 80-90 kilogram biasanya laku dijual Rp 300.000- Rp 400.000. ”Jadi, semakin banyak babi yang bisa kami tangkap, semakin besar uang yang diperoleh. Selama hampir empat tahun berburu, rombongan saya sudah menangkap lebih dari 300 babi hutan,” kata Sulaiman.

Selama berada di hutan, pemburu babi tinggal di gubuk-gubuk kayu yang sudah dibangun dan disiapkan sebelumnya. Agar tidak bersinggungan dengan yang lain, mereka biasanya memiliki wilayah perburuan tertentu.

Penuh risiko

Berburu babi bukan suatu pekerjaan tanpa risiko. Begitu masuk hutan, mereka harus bertahan hidup dan berhadapan dengan kerasnya kehidupan alam liar.

Menurut Tarto (32), pemburu dari Desa Sungai Rengit, Pangkalan Balai, selain harus menghindari ancaman ular berbisa dan buaya rawa, dia juga harus berhati-hati ketika hendak menangkap babi hutan. ”Dua tahun lalu saya pernah diseruduk babi saat menggiringnya masuk ke dalam jerat. Waktu itu tulang paha saya patah sehingga sulit berjalan selama enam bulan,” ujarnya.

Sebagian besar pemburu, menurut Tarto maupun Sulaiman, punya cara yang hampir sama dalam beroperasi. Pertama-tama, lima pemburu beserta lima anjing menyebar dalam satu kawasan untuk memasang jerat di berbagai sudut yang diperkirakan menjadi lintasan rombongan babi. Setelah mengendus keberadaan babi, anjing biasanya akan menggonggong. Seketika rombongan babi kaget dan berlari. Saat itulah pemburu menggiring buruannya ke dalam jerat.

”Serombongan babi hutan terdiri dari lima sampai enam ekor. Dari jumlah itu, paling-paling tertangkap satu atau dua ekor. Setelah itu, kami menunggu lagi,” cerita Tarto.

Bagi warga dan pemerintah Kabupaten Banyuasin dan kabupaten lainnya di Sumatera Selatan, babi hutan merupakan hama pertanian-perkebunan yang paling sulit diberantas. Skala kerusakan yang ditimbulkan hama ini juga luas sehingga menimbulkan kerugian materi yang tidak sedikit.

Merusak

Menurut data Dinas Pertanian dan Dinas Perkebunan Sumatera Selatan, hama babi hutan menyerang dan merusak lebih dari 300 hektar lahan kelapa sawit, karet, dan jagung, selama Januari-Februari 2009. Yang memprihatinkan, 70 persen lahan atau kebun yang dirusak justru milik petani rakyat, sedangkan selebihnya milik perusahaan atau korporasi swasta.

Kepala Dinas Pertanian Provinsi Sumatera Selatan Dharmansyah memperkirakan, kerugian materiil yang diderita petani mencapai ratusan juta rupiah. Lokasi serangan terparah di Kabupaten Musi Banyuasin, Lahat, Musi Rawas, dan Banyuasin. Selama Januari-Februari 2009, tercatat tiga warga terluka, dua pekebun asal Musi Banyuasin dan seorang petani jagung di Musi Rawas.

Untuk membantu masyarakat menangkal serangan hama babi, Dharmansyah mengatakan, sejak akhir 2008 sampai awal tahun ini pemerintah sudah membagikan lebih dari 500 jerat babi gratis kepada ratusan petani di Sumatera Selatan.

Perhatian yang demikian tentunya patut diapresiasi. Tapi, patut diingat pula bahwa hewan tersebut tetap dibutuhkan untuk menjaga lingkungan yang harmoni. (Boni Dwi Pramudyanto)


Editor :