Kamis, 23 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Kamis, 23 Februari 2012 | 16:16 WIB
Bali Perlu Tingkatkan Kredit Skala Kecil
Josephus Primus | Minggu, 22 Februari 2009 | 06:40 WIB
|
Share:

DENPASAR, MINGGU — Penyaluran kredit berskala kecil untuk pengembangan usaha mikro di Bali perlu lebih ditingkatkan, sebagai upaya mengatasi semakin melebarnya tingkat kemiskinan masyarakat. "Kucuran dana dari perbankan dan lembaga keuangan diharapkan mampu mendukung usaha mikro," kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali Ida Komang Wisnu, di Denpasar, Minggu (22/2).
   
Ia mengatakan, kucuran dana murah dengan prosedur yang mudah akan mampu membangkitkan gairah ekonomi masyarakat di tengah krisis ekonomi global. "Tanpa adanya gelontoran dana untuk membangkitkan ekonomi kerakyatan dikhawatirkan inflasi semakin tinggi yang pada gilirannya semakin memberatkan kehidupan masyarakat kecil," ujar Ida Komang Wisnu.
   
Hal itu didasarkan atas kajian pertumbuhan ekonomi Bali yang hanya 5,97 persen selama tahun 2008, lebih rendah dari pertumbuhan nasional yang mencapai 6,06 persen.
   
Pertumbuhan ekonomi yang didorong oleh berbagai bidang dengan pertumbuhan tertinggi pada sektor listrik, gas, dan air bersih sebesar 8,98 persen dan terendah sektor pertanian 0,61 persen.
   
Besaran sumbangan terhadap total pertumbuhan, bidang perdagangan, hotel, dan restoran merupakan faktor dominan yang mampu memberikan kontribusi 0,83 persen.
   
Sementara itu, pada triwulan IV (Oktober-Desember) 2008 ekonomi Bali tumbuh sebesar 1,32 persen, meningkat jika dibanding triwulan III (Juli-September) 2008 sebesar 1,56 persen.
   
Pertumbuhan tersebut tetap didorong oleh delapan sektor ekonomi di luar pertanian yang mengalami pertumbuhan dibanding dengan triwulan  sebelumnya (q-to-q).
   
Kinerja ekonomi Bali yang digambarkan dalam perkembangan produk domestik regional bruto (PDRB) atas harga konstan 2000, pada triwulan IV 2008 mengalami peningkatan sebesar 1,32 persen.
   
Peningkatan tersebut dipicu oleh membaiknya kinerja pada hampir semua sektor ekonomi, kecuali sektor pertanian yang mengalami kontraksi pertumbuhan 1,56 persen. Demikian ujar Ida Komang Wisnu.

 

 

Sumber :
Ant