Rabu, 16 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Rabu, 16 Mei 2012 | 23:27 WIB
Demo Anarkis di Sumut Tak Pengaruhi Pariwisata
Khaerudin | Minggu, 8 Februari 2009 | 21:41 WIB
|
Share:

MEDAN, MINGGU - Demonstrasi anarkis massa pendukung pembentukan Provinsi Tapanuli yang berbuntut tewasnya Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Sumatera Utara Abdul Azis Angkat 3 Februari lalu tak terlalu mempengaruhi sektor pariwisata. Efek teror yang ditimbulkan unjuk rasa anarkis tersebut tak membuat wisatawan takut berkunjung ke Sumatera Utara.

Menurut General Manajer Hotel Niaga Parapat Cahyo Pramono mengatakan, pemberitaan di berbagai media pascaaksi anarkis pendukung pembentukan Provinsi Tapanuli cenderung membuat masyarakat tidak terlalu khawatir. Respon aparat keamanan yang cukup cepat menyusul demonstrasi anarkis tersebut membuat masyarakat yakin kejadian serupa tak berulang.

"Begitu terjadi peristiwa tersebut, aparat keamanan diberitakan mengantisipasi segala sesuatu yang kemungkinan terjadi. Respon pemerintah yang cukup cepat mengatasi insiden ini, terutama dalam hal pengamanan, membuat masyarakat tak terlalu khawatir," ujar Cahyo kepada Kompas di Medan, Minggu (8/2).

Terlebih menurut Cahyo beberapa tujuan wisata unggulan di Sumut seperti Danau Toba dalam beberapa tahun terakhir ini lebih mengandalkan kunjungan wisatawan domestik. "Untuk wisatawan domestik hal-hal yang berbau ancaman teror ini kan sepertinya sudah cukup kebal. Jadi mereka pasti tak akan terlalu berpengaruh dengan kejadian ini," katanya.

Menurut Cahyo, komposisi wisatawan yang datang ke Sumut saat ini 80 persen adalah wisatawan domestik, sisanya manca negara. "Ini sebenarnya kebalikan dari tahun 1996, saat ini mayoritas wisatawan yang datang ke Sumut justru dari manca negara," ujar Cahyo.

Tingkat okupansi hotel pascainsiden meninggalnya Ketua DPRD Sumut juga masih normal. Menurut Cahyo, tidak ada pesanan kamar hotel yang batal akibat kejadian tersebut. "Tingkat okupansi hotel masih normal. Memang kalau untuk hari-hari seperti sekarang tingkat okupansinya rendah, tetapi tak ada pemesanan yang batal akibat insiden tersebut," katanya.

Di Medan, tingkat okupansi hotel juga tak terpengaruh akibat demonstrasi anarkis pembentukan Provinsi Tapanuli. Menurut Manajer Pemasaran Hotel Garuda Plaza Medan Afwandi, rata-rata tingkat okupansi hotel Medan tak terpengaruh. Afwandi menuturkan, tamu-tamu dari luar negeri yang menginap di hotelnya sama sekali tak mempertanyakan kejadian demonstrasi anarkis di gedung DPRD Sumut. "Kalau terjadi penurunan tingkat okupansi hunian hotel di Medan, itu lebih terjadi karena krisis global," katanya.

Afwandi malah mengatakan, hotel-hotel bintang tiga ke bawah masih relatif lebih bagus. "Ini terutama karena pelanggan korparat yang biasanya menggunakan hotel bintang lima dan bintang empat, lebih memilih hotel bintang tiga untuk menghemat anggaran," katanya.