Rabu, 16 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Rabu, 16 Mei 2012 | 23:24 WIB
Takut Gerhana, Nelayan Lamongan Tidak Melaut
Adi Sucipto | Senin, 26 Januari 2009 | 16:59 WIB
|
Share:

LAMONGAN, SENIN - Pada Minggu (25/1) hingga Senin (26/1) nelayan kembali tidak melaut. Mereka akan melaut kembali setelah perayaan imlek. Sekretaris Nelayan Seluruh Indonesia Cabang Lamongan, Sudarlin, Senin (26/1) mengatakan mereka tidak melaut bukan karena merayakan imlek. Tetapi pada saat imlek diperkirakan ombak tinggi karena ada pengaruh terjadi gerhana matahari.

Pada Senin sore terjadi gerhana matahari berbentuk cincin atau sabit di seluruh Indonesia. Kondisi bulan diantara bumi dan matahari sehingga matahari tidak terlihat seluruhnya, hanya bagian berbentuk sabit yang terlihat. Kami khawatir teradinya gerhana m atahari ini berpengaruh pada gelombang di tengah laut dan garvitasi bulan kuat. "Maka nelayan memilih tidak melaut," kata Sudarlin.

Nelayan di wilayah pantai utara Lamongan berharap agar pada musim melaut mendatang, dilimpahi rejeki tangkapan yang melimpah. Menuurt Sudarlin, nLamongan mulai melaut kembali sejak Rabu (21/1) malam setelah tiga pekan lebih tidak melaut akibat cuac a buruk.

Sudarlin mengatakan pada Rabu malam ada 40 kapal dan Kamis malam 70 kapal yang melaut. Pada Jumat malam dan Sabtu malam juga puluhan kapal yang berangkat. Sayangnya, pasokan es sering telat. Padahal sekali berangkat satu kapal butuh 300-400 balok es. Kalau hanya di tepi butuh 40 balok, katanya.

Dia berharap cuaca semakin membaik sebab sudah hampir sebulan nelayan Lamongan tidak melaut. Ombak besar dan angin kencang sejak awal Januari membuat nelayan takut melaut. Selama Januari tercatat tiga kapal nelayan Lamongan diamuk gelombang besar.

Sudarlin menyebutkan kapal Sidomekar tenggelam di perairan utara Madura, kapal Tawakal tenggelam saat akan memasuki pelabuhan Berondong, sedang kapal Sidotentrem pecah diempas ombak di perairan Lamongan. Itu belum termasuk tiga kapal kecil jenis mayang d i Kemantren dan Lohgung, Paciran yang rusak diempas ombak, katanya.

Akibat nelayan tidak melaut aktivitas bongkar ikan di Lamongan sempat sepi. Bahkan sebagian nelayan ada yang menggadaikan barang berharga dan bukti pemilik kendaraan bermotor. Alhamdulillah sekarang mulai bisa melaut lagi. "Namun ikan masih langka sehingga harganya masih mahal," katanya.

Sudarlin mecontohkan ikan layang naik dari Rp 10.000 menjadi Rp 12.000 per kilogram (kg). Ikan tongkol naik dari 11.000 menjadi Rp 13.000 per kg. Untuk jenis ikan yang diproses untuk surimi seperti menjadi naget, sosis melonjak drastis. Jenis ikan suwangi naik dari Rp 2.300 menjadi Rp 4.500 per kg. Ikan kerisi atau ikan kuningan kecil naik dari Rp 2.500 menjadi Rp 4.000 per kg. Jenis ikan kapasan malah tidak ada barangnya, katanya.

Akibat nelayan tidak melaut selama lebih dari tiga pekan terjadi kelangkaan ikan di TPI Brondong maupun di TPI di Sidokelar Kecamatan Paciran. Ketua HNSI Cabang Lamongan, Anas Widjaya mengatakan pada hari-hari normal jumlah kapal nelayan yang bongkar muat an ikan di TPI Brondong antara 40 hingga 70 unit.

Namun sejak cuaca buruk terjadi awal Januari, kapal nelayan yang bongkar muatan ikan hanya dua hingga tiga unit per hari. Hasil tangkapan tidak terlalu. Nelayan hanya mencari ikan di tepian tidak berani terlalu jauh melaut. Sebagian besar malah hanya mem perbaiki kapal dan jaring yang rusak, kata Anas.

Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Lamongan, Mustakim Arif menyatakan akibat jarangnya nelayan melaut, hasil tangkapan ikan laut turun. Dalam kondisi normal hasil tangkapan laut yang masuk di TPI Brondong mencapai 160 ton per hari. Namun saat cuaca bur uk ikan yang dibongkar berkisar 10-20 ton per hari.

Pemerintah Kabupaten Lamongan berupaya meningkatkan dukungan dan fasilitas dalam rangka mendorong nelayan memperluas jangkauan area wilayah penangkapan hingga ke laut lepas. Upaya pelestarian sumberdaya alam, hutan mangrove, terumbu karang dan padang lamu n sebagai pendukung stok biomas di laut erus ditingkatkan. Upaya itu diantaranya menambah 150 unit rumpon dari 100 unit yang telah ada sebelumnya dari Lohgung hingga Weru, kata Mustakim.

Selain itu dibangun break water (pemecah gelombang), bantuan jaring nelayan, dan pendalaman tambat labuh. Tempat Pelelangan Ikan (TPI) diperbaiki serta ada perbaikan sarana bantu tangkap seperti Global Positioning System (GPS).

Di samping mengembangkan potensi sumberdaya laut, penting memerhatikan daya dukung laut dan pesisir serta kelestarian ekosistem. Oleh karena itu dibutuhkan kebijakan dan kearifan bersama demi terjalinnya hubungan yang harmonis dengan alam dan semua lini. Berdasarkan penelitian, keberadaan stok biomas ikan di perairan laut saat ini sudah tidak sepadan dengan jumlah alat tangkap yang dimiliki nelayan.