BAGI warga Tionghoa, perayaan Tahun Baru China alias Sincia harus kental dengan tradisi. Biasanya, sebulan menjelang Sincia, geliat bisnis terkait Imlek sudah terasa. Salah satunya adalah kue keranjang. Masa seperti ini menjadi kesempatan produsen dan pedagang menangguk rezeki.
Sebuah gang di daerah Pintu Air, Tangerang, mulai terlihat ramai sebulan terakhir ini. Sekitar 50 meter masuk gang selebar mobil itu, aroma wangi langsung menggoda indra penciuman. Rumah yang berada di sepanjang gang itu tak terlihat istimewa.
Tapi, ada satu rumah yang berbeda. Rumah itu memang sederet dengan gang. Di depan rumah, sejumlah wanita asyik mengemas penganan dengan dedaunan. Di bagian belakang, tampak dapur luas bertutup seng dengan tumpukan kayu bakar.
Itulah pabrik kue keranjang Nyonya Lauw yang sedang panen rezeki. Usaha yang dirintis sejak tahun 1962 itu tetap bertahan meski permintaan terbesar makanan ini membeludak saat menjelang Imlek.
Jika sedang kebanjiran order seperti sekarang, pabrik rumahan ini harus mengerahkan para wanita di sekitar kawasan itu untuk mengemas penganan sejenis dodol itu. "Rata-rata mereka itu pekerja musiman yang kami rekrut menjelang Imlek," ujar Umar Sanjaya, putra tertua Sid Lauw, pemilik pabrik kue keranjang dan dodol Nyonya Lauw.
Pemasaran kue keranjang Nyonya Lauw kini sudah sampai ke Bandung, Karawang, dan Bekasi. "Saya masih repot memenuhi permintaan dari luar kota. Maklum, semuanya masih dikerjakan secara tradisional," papar Umar.
Pada hari-hari biasa, pabrik ini membuat dodol. Tapi, sebulan menjelang Imlek, pabrik itu khusus memproduksi kue keranjang. "Satu bulan sebelum Imlek sudah banyak yang pesan, terutama toko-toko untuk dijual kembali," kata Umar. Saat seperti itu, pabrik ini meraup omzet puluhan juta per bulan.
Umar mengaku, setiap hari mengolah sekitar satu ton tepung ketan. Semua proses pembuatannya masih tradisional. Ada tangki dengan adukan besar, alat pencetak, dan lainnya.
Salah satu ciri khas kue keranjang tradisional adalah kemasannya menggunakan daun pisang. Bau kue keranjang yang terbungkus daun terasa lebih wangi ketimbang kemasan plastik. Proses pengukusannya masih menggunakan kayu bakar selama 12 jam. "Pelanggan sangat menyukai rasa kue keranjang tradisional ini," imbuh Umar.
Dengan berbagai kelebihan itu, tak heran harga kue keranjang kemasan daun lebih mahal ketimbang yang kemasan plastik. Kue keranjang Nyonya Lauw dijual dalam ukuran satu kilo yang terdiri dari dua potong kue dengan harga Rp 17.000. Namun, sesampainya di toko, harganya bisa naik hingga dua kali lipat.
Contohnya, gerai buah dan makanan impor All Fresh di Kelapa Gading. Gerai ini menjual satu pak kue keranjang, lengkap dengan kotaknya, mulai Rp 25.000. Kemasannya ada yang ukuran 1/4 kg dan ukuran satu kilo utuh. "Kue keranjang ini kami pesan khusus dari Tangerang," ujar salah satu karyawan All Fresh. (Aprillia Ika)
