PALEMBANG, RABU — Pertamina menyiagakan 20 truk tangki pengangkut BBM di berbagai titik terjauh di Sumsel, Jambi, Bengkulu, dan Lampung untuk mengantisipasi lonjakan permintaan di hari pertama penurunan harga BBM. Jika sebuah SPBU kehabisan stok maka bisa langsung diberi pasokan tambahan dari truk tangki yang ada di titik terdekat.
Menurut Staf External Pertamina Unit Pemasaran Sumatera Bagian Selatan Roberth MVD, Rabu (14/1) di Palembang, ke-20 truk tangki itu akan ditempatkan di titik-titik yang lokasinya berjauhan dengan depot BBM Pertamina, tetapi berdekatan dengan SPBU.
Di Sumatera Selatan, penempatannya ada di Kayu Agung dan Tugumulyo. Di Provinsi Jambi, penempatannya ada Liwa dan Kotabumi. Di Jambi, truk tangki akan ditempatkan di Bungo, Bangko, dan Kerinci. Truk tangki ini berfungsi sebagai penyedia stok tambahan bagi SPBU yang lokasinya berdekatan dengan titik-titik di atas.
Ia menjelaskan, di setiap titik akan ditempatkan 2-3 truk tangki BBM dan setiap truk akan membawa 16.000 liter premium dan solar. Jadi, berapa pun permintaan BBM dari masyarakat pasti bisa terpenuhi.
Menurut Roberth, sistem ini diberlakukan dengan mempertimbangkan pengalaman cukup banyak SPBU yang tutup di hari pertama penurunan harga premium dari Rp 6.000 menjadi Rp 5.500 per liter. Dengan metode penempatan truk tangki ini, diharapkan kasus itu tidak terulang lagi.
Pertamina juga mengultimatum para pengusaha SPBU, terutama di Kota Palembang, untuk tidak menutup SPBU pada hari pertama penurunan harga. Jika pengusaha tetap nekat maka Pertamina sudah menyiapkan sanksi baru yang lebih berat.
"Jauh hari, pengusaha sudah diberitahu bahwa kompensasi penurunan harga sudah disiapkan. Caranya, sejak H-2 penurunan harga, SPBU boleh menebus BBM dengan harga baru namun boleh menjual dengan harga lama. Dengan demikian, pengusaha sudah untung dulu," katanya.
Menurut Roberth, sanksi bagi pengusaha SPBU nakal adalah memotong Rp 20 per liter dari total transaksi produk-produk Pertamina (premium, solar, pertamax) yang dijual SPBU kepada konsumen.
