ENDE, SENIN-Feri kembali batal sandar di dermaga Pelabuhan Penyeberangan Nan gakeo, di Kabupaten Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur, Senin (4/8). Nahkoda kemudian mengalihkan feri ke Pelabuhan Ende.
Dengan demikian, feri yang batal sandar di Nangakeo sejak diresmikan 15 Maret lalu tercatat sudah tujuh kali . Kapal Motor Penyeberangan (KMP) Uma Kalada yang terakhir batal bersandar di Nangakeo, yaitu pada Senin (21/7) lalu. Sementara feri yang batal sandar hari ini adalah KMP Rokatenda, akibat kondisi laut di wilayah perairan Nangakeo beralun.
"Meski kondisi laut beralun, semestinya feri tetap dapat sandar apabila posisi dermaga (Nangakeo) tepat. Masalahnya posisi ujung dermaga sekarang menadah gelombang laut (melintang), sehingga goyangan kapal amat besar, dan itu membahayakan tak hanya kapal, melainkan juga penumpang," kata nahkoda KMP Rokatenda Yohanes Subakti, Senin, di Ende.
Posisi ujung dermaga Nangakeo memang dikeluhkan banyak pihak, yang dinilai kurang tepat. Dermaga itu dibangun searah dengan bibir atau garis pantai yang mengakibatkan lambung feri yang sedang sandar akan terkena langsung empasan ombak.
Badan feri pun akan bergoyang hebat, bahkan pintu haluan kapal sampai bergeser kuat ke kanan dan kiri. Kondisi itu amat berbahaya ketika berlangsung bongkar muat. Selain itu, letak dermaga Nangakeo juga berdekatan dengan bibir pantai, sehingga badan feri yang sedang sandar juga akan mudah bergoyang terkena balasan atau pecahan ombak dari bibir pantai.
"Selama posisi dermaga tak diubah tak akan berfungsi secara optimal, bahkan juga tak efisien. Seringnya feri batal sandar di Nangakeo itu mengakibatkan biaya tinggi tak hanya bagi penumpang, tapi juga pihak PT ASDP," ujar Yohanes.
Di sisi lain, keluhan serupa soal posisi dermaga Nangakeo juga diungkapkan nahkoda KMP Uma Kalada Yusuf. "Sejak saya bekerja tahun 1989 di wilayah NTT, dermaga Nangakeo ini yang paling buruk. Posisi dermaga amat mem bahayakan kapal. Seharusnya dermaga berbentuk huruf I, sehingga meski kondisi beralun feri tetap dapat sandar, gerakan kapal akan mengangguk-angguk saja, bukan bergeser ke kanan-kiri," kata Yusuf.
Pelabuhan Penyeberangan Nangakeo dibangun melalui proyek multi years (bertahap) yang diawali pengerjaannya tahun 2004. Nilai proyek pelabuhan itu Rp21.540.316.000 yang dibiayai dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Pelabuhan itu juga dibangun dengan fasilitas terbaik untuk pelabuhan sejenis di wilayah NTT.
Ketua Komisi B DPRD Kabupaten Ende Yustinus Sani secara terpisah mengemukakan, penggunaan dermaga Nangakeo yang tak optimal itu feri yang sering betal sandar menunjukkan lemahnya perencanaan pembangunan pelabuhan laut di wilayah Indonesia timur, khususnya NTT.
Berhubung pelabuhan ini milik pemerintah pusat, kami hanya dapat berkoordinasi dengan DPRD provinsi, maupun DPR untuk meminta pertanggungjawaban Departemen Perhubungan, mengapa hal ini terjadi. "Bagaimana sebenarnya proses perencanaan waktu itu," kata Yustinus Sani.(SEM)
