ENDE, SELASA - Proses perencanaan dermaga Pelabuhan Penyeberangan Nangakeo dipertanyakan sejumlah pihak. Pasalnya, sejak pelabuhan itu diresmikan pada 15 Maret 2008, feri milik PT Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan seringkali batal sandar.
Feri batal sandar di Nangakeo tercatat sebanyak enam kali, yaitu 14 April, 27 Mei, 21 Juni, 25 Juni, 1 Juli, dan Senin (21/7) kemarin. Pembatalan umumnya karena goyangan pada badan feri begitu kuat, yang amat membahayakan proses debarkasi.
Posisi ujung dermaga Nangakeo dinilai kurang tepat , sebab searah dengan garis atau bibir pantai. Hal itu menyebabkan ketika feri sandar akan langsung terkena atau diterpa ombak. Sementara karakteristik ombak di kawasan perairan Nangakeo ganas, baik di musim tenggara (April-Agustus), maupun musim barat (September-Maret).
Sekretaris Fraksi Partai Damai Sejahtera (F-PDS) DPRD Kabupaten Ende, Antonius Yohanes Bata mempertanyakan, sejauh mana proses perencanaan sebelum proyek itu dilaksanakan.
"Sebaiknya konsultan perencana proyek dimintai penjelasan, mengapa posisi dermaga dibangun seperti itu. Bupati perlu meminta penjelasan dari konsultan perencana proyek tersebut. Janganlah pelabuhan dibangun asal-asalan atau yang penting ada pelabuhan di Ende. Sebab percuma kalau pemanfaatannya tak optimal," kata Antonius, Selasa (22/7), di Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Supervisi PT ASDP Cabang Ende Ebas A Syarif, Administrator Pelabuhan (Adpel) Ende Abia Alex Foe, maupun nahkoda Kapal Motor Penyeberangan Uma Kalada, Yusuf sepaham, bahwa posisi dermaga Nangakeo kurang tepat.
"Waktu feri sempat sandar kemarin (Senin) di Nangakeo, tali penambat kapal ke dermaga sampai putus. Saya langsung memutuskan feri sandar di Pelabuhan Ende. Posisi dermaga seharusnya menghadap ke laut," kata Yusuf.
Pelabuhan Penyeberangan Nangakeo secara administratif berada di Desa Bheramari, Kecamatan Nangapanda, Kabupaten Ende. Pelabuhan tersebut dibangun melalui proyek multi years yang diawali pengerjaannya tahun 2004.
Nilai proyek pelabuhan penyeberangan itu Rp 21.540.316.000 yang dibiayai dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Pelabuhan itu dibangun dengan fasilitas terbaik untuk pelabuhan sejenis di wilayah NTT.
Adpel Ende, Abia Alex Foe mengatakan, soal posisi dermaga itu pihaknya telah memberikan masukan secara lisan kepada pejabat Dinas Perhubungan NTT supaya persoalan tersebut segera ditindaklanjuti.
Ketika dikonfirmasi Pejabat Pembuat Komitmen Pelabuhan Penyeberangan Nangakeo, Dominggus Nun Hitu mengatakan bahwa dermaga itu dibuat berdasarkan desain yang diberikan oleh konsultan perencana.
Desain atau gambar dermaga telah disahkan oleh pihak direktorat perhubungan darat selaku konsultan perencana. "Kami tinggal melaksanakan saja. Dan sebenarnya dermaga Nangakeo tetap berfungsi dengan baik, hanya memang pada situasi tertentu karena faktor cuaca buruk feri tak dapat sandar. Feri batal masuk juga hanya waktu-waktu tertentu, dan faktor alam ini kan tak dapat diprediksi," ujar Dominggus.
